BAB 12
Akuntansi
Multinasional : Transaksi Laporan Keuangan Entitas Asing
Ø Perbedaan
Dalam Prinsip Akutansi
Metode-metode
yang digunakan untuk mengukur aktivitas ekonomi berbeda-beda di seluruh
dunia.kondisi perekonomian suatu negara, masalah hukum, pndidikan dan sistem
politk, perkembangan teknologi, budaya dan tradisi, serta berbgai fakto-faktor
sosial ekonomi lainya, merupakan faktor yang
mempengaruhi perkembangan standar akutansidan profesi di suatu negara.
Perbedaan ini akan menyebabkan adanya perbedaan yang signifikan antara
standar-standar akutansi di berbagai negara. Ketidakseragaman standar di
berbagai negara akan menimbulkan berbagai masalah bagi perusahaan, pihak
penyusun dan pengguna laporan keuangan. Beberapa negara mengembangkan prinsip akutansinya
berdasarkan kebutuhan informasi dan otoritas pajak. Negara lain mempunyai
prinsip akutansi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dari pemerintah pusoat
sebagai perencana ekonomi. Model di Indonesia berfokus pada kebutuhan informasi
pemegang saham biasa ataun pihak pemberi kredit melalui penerapan prinsip
akutansi yang berlaku umum.
Standar
pelaporan akutansi yang utama saat ini sedang dalam proses penyusunan oleh International Accounting standard Board
(IASB). IASB adalah sebuah badan yang memeperoleh mandat untuk menyusun
seperangkat standar laporan keuangan international dan mendorong seluruh pihak
untuk mengadopsi standar yang berlaku secara international tersebut. IASB
mengatur susunan keanggotaan, dengan komposisi sebagai berikut :
ISAB
mengumumkan sebuah standar pelaporan yang disebut sebagai Setandar Pelaporan
Keuangan Internasional (International
Financial Reporting Standards-IFRSs). Sebelum terbentuknya ISAB, International Accounting Standard Committe
telah menerbitkan International Accountig Standard (IASs). IASs di
terbitkan dari tahun 1973 hingga tahun 2001. IASB mengadopsi IASs secara
keseluruhan dan sekaligus mengembangkanya, yang disebut IFRSs.
Ø Penentuan
Mata Uang Fungsional
Ada
dua isu yang ditunjukan pada laporan keuangan yang ditranslasikan dari mata
uang asing pada rupiah Indonesia yaitu:
1. Nilai tukar manakah yang harus
digunakan untuk mentraslasikan nilai mata uang asing menjadi mata uang
domestik?
2. Bagaimanakah seharusnya perlkuan
atas keuntungan atau kerugian tersebut?Haruskah hal itu dimasukan dalam laba
rugi?
Ada tiga kemungkinan nilai
tukar yang digunakandalam mengonversi
nilai mata uang asing menjadi rupiah yaitu:
1. Nilai tukar sekarang, merupakan
nilai tukar pada akhir tanggal neraca
2. Nilai tukar historis, merupakan
nilai tukar yang pada saat transakasi awal terjadi, seperti nilai tukar pada
tanggal saat aset diterima atau kewajiban diakui.
3. Nilai tukar rata-rata, merupakan
nilai tukar rata-rata selama suatu periode.
PSAK No 11 tentang “translasi mata
uang asing” (PSAK 11) memberikan panduan khusus untuk mentranslasi laporan
euangan dari mata uang asing menjadi mata uang rupiah. Tujuan dari PSAK 11
menyajikan hasi secara langsung memeperlihatkan pengaruh perubahan ekonomi dari
pergerakan nilai tukar. PSAK 11 juga menjelaskan tentang pencapaian keuangan
dan hubunganya dalam laporan keuangan dengan mata uang asing melalui proses
translasi. PSAK mengadopsi konsep uanhg kungan fungsional (functional currency)
yang definisikan sebagai mata uang dari lingkungan ekonomi primer kauntuk
memebedakan antara dua jenis kegiatan operasional luar negeri yaitu;
1. Kegiatan dikelola sendiri dan
terintegrasi dengan lingkunga lokal dimana entitas asing itu beroprasi, dan
2. Kegiatan terpisah dari lingkungan
lokal dan terintegrasi dengan induknya.
Indikator-indikator
Mata Uang fungsional
Indikator
|
Mata
uang sebagai mata uang fungsional jika memenuhi indikator di bawah ini
|
Arus kas
|
Arus kas yang berhubungan dengan
kegiatan utama perusahaan didomonasi oleh mata uang tersebut.
|
Harga jual
|
Harga jual dalam jangka pendek
sangat terpengaru dengan perubahan nilai mata uang tersebut atau produksi
perusahaan sebagian besar di ekspor.
|
Beban
|
Beban dipengaruhi oleh perubahan
nilai mata uang.
|
Akan tetapi, beberapa entitas asing
menggunakan mata uang fungsional yang berbeda dengan mata uang lokalnya. DSAK
telah mengadopsi pendekatan mata uang fungsional setelah mempertimbangkan
tujuan dari prosestranslasi berikut.
1. Memberikan informasi yang secara umum sesuai dengan pengaruh
ekonomi yang diharapkan dari perubahan nilai tukar terhadap arus kas dan
ekuitas perusahaan.
2. Mencerminkan laporan keuangan konsolidasi hasil keuangan dan
hubungan antara masing-masing entitas konsolidasi dalam mata uang fungsional
yang sesuai dengan prinsip akutansi yang berlaku secara umum di Indonesia.
Ø Penentuan
Mata Uang Fungsional di Lingkungan dengan Tingkat Inflasi Tinggi
Pengecualian
atas kriteria pemilihan mata uang asing dikhususkan jika entitas asing
berlokasi di negara seperti Argentina dan Peru yang mengalami inflasi yang
sangat tinggi. Inflasi yang sangat tinggi didevinisikan sebagai inflasi yang
melibihi 100% selama periode 3 tahun. PSAK memutuskan bahwa volativitas dalam
mata uang asing dengan hiperinflasi
mendistorsi laporan keuangan jika mata uang lokal dipergunakan sebagai mata
uang fungsional entitas asing. Oleh karna itu, dalam kasus oprasi entitas asing
ang berbeda dengan perekonomian dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi, mata
uang pelaporan dari indu perusahaan Indonesia-rupiah-harus digunakan sebagai
mata uang fungsional entitas asing. Pengecualian ini menyegah nilai aset dan
perubahan laporan laba rugi yang tidak realistis jika keadaan hiperinflasi
tersebut diabaikan dan presedur translasi yang normal digunakan. Sebagai
contoh, asumsikan bahwa anak perusahaan di luar negeri membangun gedung dengan
biaya 1.000.000 peso pada saat nilai tukar adalah Rp500 = 1 peso. Kemudian
diasumsikan bahwa karna adanya hiperinflasi dinegara anak
perusahaan luar negeri trsebut, maka nilai
tukar menjadi Rp0,05 = 1 peso. Nilai gedung hasil translasi pada saat dibangun
dan setelah hiperinflasi adalah sebagai berikut.
Jumlah
|
Tanggal
Pembangunan
|
Setelah
Hiperinflasi
|
|||
(peso)
|
Nilai Tukar
|
Jumlah hasil Translasi
|
Nilai Tukar
|
Jumlah Hasil Traslasi
|
|
1.000.000
|
Rp500
|
Rp500.000.000
|
Rp0,05
|
Rp50.000
|
|
Nilai
translasi setelah hiperinflasi tidak mencerminkan nilai pasar atau biaya prolehan
historis dari gedung tersebut. Oleh karna itu, PSAK mengharuskan penggunaan
rupiah sebagai mata uang fungsional dalam kasus hiperinflasi untuk memeberikan
stabilitas dalam laporan keuangan.
Ø Translasi
Versus Pengukuran Kembali Laporan Keuangan Asing
Terdapat
dua metode yang berbeda untuk menyajikan kembali laporan keuangan entitas sing
kedalam rupiah yaitu;
1. Tranlasi laporan keuangan entitas
asing kerupiah.
2. Pengukuran kembali laporan keuangan
entitas asing kemata uang fungsional entitas tersebut.
Setelah penguuran kembali, keuangan
tersebut harus ditranslasikan jika mata uang fungsionalnya bukan rupiah. Jika
mata uang fungsionalnya adalah rupiah maka tidak diperlukan translasi lagi.
Translasi
adalah metode yang umum digunakan dan diterapkan jika mata uang lokal adalah
mata uang fungsional entitas asing. Inin merupakam kasus normal dimana, sebagai
contoh, anak perusahaan Indonesia di Prancis menggunakan euro ke rupiah. Setiap
selisih translasi yang terjadi akan dimasukan srbagai komponen laba komprensif.
Oleh karna pendapatan dan beban laba rugi ditranslasikan dengan mengguakan
nilai tukar rata-rata sepanjang periode pelaoran. Metode translasi sering
disebut sebagai metode nilai tukar
sekarang (current rate methods).Metode
yang digunakan untuk pengukuran kembali laporan keuangan dari mata uang lokal
kepada mata uang fungsional disebut metode
temporal (temporal methods).
Tabel berikutmenyajikan metode-metode yang dapat diguakan oleh perusahaan
Indonesia untuk menyatakn kembali laporan keuangan afiliasi asing menjadi
rupiah.
Mata
uang pembukaan dan
Pencatatan
afiliasi luar negri
|
Mata
uang fungsional
|
Metode
penyataan kembali
|
Mata
uang lokal (yaitu mata uang negara tempat afiliasi berlokasi) mata uang local
|
Mata
uang lokal
Rupiah
indonesia (seperti yang diharuskan dalam perekonomian hiperinflasi)
|
Translasi
ke rupiah menggunakan nilai tukar sekarang.
Diukur
kembali dari mata uang lokal kerupiah
Pertama, diukur kembali dari mata uang lokal
kemata uang fungsional, kemudian di translasikan dari mata uang fungsional ke
rupiah.
Tidak
diperlukan pernyataan kembali; suadah dinyatakan dalam rupiah
|
Mata uang local
|
Mata
uang negara ketiga (bukan matauang lokal atau rupiah
|
|
Rupiah Indonesia
|
Rupiah indonesia
|
Ø Translasi
Laporan Keuangan Mata Uang Fungsional Menjadi Mata Uang Pelaporan Perusahaan
Indonesia
Sebagian
besar entitas bisnis melakukan transaksi dan mencatat aktivitas bisnisnya dalam
mata uang lokal. Oleh karna itu, mata uang lokal dari entitas asing dalah matauang
fungsionalnya. Translasi laporan keuangan entitas asing kedalam rupiah
merupakan proses yang relatif sederhana.
DSAK
menyakini bahwa hubungan ekonomi yang mendasari disajkanya laporan keuangan
entitas asing tidak boleh terdistori atau berubah selama proses translasi dari
mata uang fungsional entitas asing menjadi mata uang asing induk perusahaan.
Sebagai contoh, jika laporan keuangan mata uang fngsional melaorka rasio
laancar 2:1 dan laba kotor 60% dari penjualan, maka hubungan in harus tetap
dalam proses traslasi menjadi mata uang pelaporan induk perusahaan Indonesia.
Merupakan hal yang penting untuk dapat mengevaluasi kinerja dari manajemen
afiliasi asing dengan menggunakn ukuran ekonomi yang sama dengan yang digunakan
dalam operasi entitas asing. Untuk memepertahankan hubungan ekonomi tersebut
dalam laporan keuangan mata uag fungsional, saldo akun harus ditranslasikan
dengan nilai tukar yang sebanding.
Secara
ringkas, translasi laporan keuangan entitas asing dari mata uang fungsional
kemata uang pelaporan perusahaan Indonesia adalah sebagai berikut;
Akun
laporan laba rugi:
Pendapatan dan beban
|
Umumnya, nilai tukar rata-rata tertimbang untuk periode
laporan
|
Akan
neraca:
Aset dan kewajban
Ekuitas pemegang saham
|
Nilai tukar sekarang pada tanggal neraca
Nilai tukar historis
|
Oleh karna untuk translasi
masing-masing aun entitas asing digunakan kurs yang berbeda-beda, maka umumnya
debit dan kredit dalam neraca percobaan setelah translasi tidak sama. Pos
penyeimbang debit percobaan translasi dengan kreditnya disebut selisih translasi.
Ø Laporan
Keuangan dari selisih Translasi.
Selisih
transasi dari prises translasi adalah bagian dari pendapatan komprehensif untuk
periode terseut. Pendapatn kompreensif termasuk emua perubahan dalam ekuitas
selama tahun berjalan kecuali perubahan yang timbul daru investasi pemilik dan
pembagian ke pemilik. Pemdapatan
komprehensif termasu laba bersih dan “pendapat
komperensif lainya” yang merupakan bagian dari perubahan aset bersih
perusahaan dari sumber selain pemilik (yaitu bukan investasi modal tambahan dan
deviden) selma periode berjalan. PSAK mengharuskan pelaporan pendapatan
komperensif sebagai bagian dari laporan keuangan utama entitas. Pos utama yang
menjadi bagian dari pendapatan komperensif lainya adalah perubahan selisih
translasi selama periode berjalan., nilai arus kas, dan penyesuaian dalam
kewajibana pensiun minimum.
Terdapat
beberapa alternatif format penyajian untuk pendapatan komprehensif. Laporan
tunggal, pendekatan laporan gabungan, pertama menyajikan pos-pos dalam laporan
laba rugi dankemudian mempunyai bagiann yang menyajikan pos pendapatan
komprenhesif lainya. Sebagai alternatif, yaitu penyajian dua laporan, pertama
menyajikan perhitungan laba bersih dalam satu laporan dan kemudian laporan
terkait yang dimulai dengan laba bersih dan merekonsiliasi menadi pendapatan
komprehensif dengan melaporkan pos pendapatan komprehensif secara terpisah.
Alternatif ketiga, yang sring banyak digunakan oleh perusahaan, adalah hanya
menyajikan pos yang merupakan bagian dari pendapatan komprehensif lainya dalam
skedul akumulasi pendapatan komprehensif lainya dalam laporan perubahan ekuitas
konsolidasi. Suatu entitas dapat
menyajikan komponen dari pos pendapatan kpmprehensif lainya bersih dari pajak
atau dapat menyajikan pengaruh agregat pajak terkait dengan total pendapatan
komprehensif lainya dalam suatu angka.
Ø Kepemilikan
Minoritas pada Anak Perusahaan Luar Negeri
Sebagian
besar perusahan di Indonesia suka memiliki 100% anak perusahaan luar negerinya.
Denagan demikian akan memungkinkan manajemen lebih efesien atas anak perusahaan
dan tidaka ada keharusan untuk menyusun laporan keuangan anak perusahaan untuk
kepemilikan minoritas harus dihitung dan diperlakukan sebagaimana yang sudah
dilelaskan sebelumnya. Satu-satunya perbedaan adalah alokasi selisih translasi
akan neraca percobaan anak perusahaan luar negeri. Oleh karna itu, sebagai
contih, jika PT. Induk memiliki 80% kepemilikan di German Cempanydan investor
lain memiliki kepemilikan minaritos akan mendapat alokasi sebasar presentase
kepemilikan dari selisih dari translasi melalui proses ayat jurnal eliminasi.
Kepemlikan minoritas di neraca konsolidasi akir tahun akan termasu bagianya
atas akumulasi pendapatan komprehensif lainya dari selisih sebagai berikut.
Saham biasa (Rp640.000.000 x 0,2)
|
Rp128.000.000
|
|
Saldo laba:
|
||
Saldo laba awal (Rp160.000.000 x o,2)
|
Rp32.000.000
|
|
Ditambah: laba bersih (Rp212.500.000 x
0,2)
|
42..500.000
|
|
Dikurangi: deviden (Rp110.000.000 x
0,20)
|
(22.000.000)
|
|
Total saldo laba
|
52.500.000
|
|
Akaumulasi pendapatan komprehensif
lainya-selisih (Rp110.000.000 x 0,20)
|
22.000.000
|
|
Total kepemilikan minoritas
|
202.500.000
|
Ø Pengukuran
Kembali Pembukuan ke Dalam Mata Uang Asing Fungsional
Metode
kedua untuk menyajikan kembali laporan keuangan afiliasi luar negeri ke rupiah
adalah pengukuran kembali. Walaupaun pengukuran kembali untuk umum sebagaiman
translasi, terdapat beberapa situasi dimana mata uang fungsional dari afiliasi
asing bukan mata uang uang lokal. Pengukuran kembali sama sperti translasi di
mana tujuanya adalah untuk mendapatkan nilai setar rupiah dariakun-akun
afiliasi asing sehingga dapat digabungkan atau dikonsolidasi dengan laporan
keuangan perusahaan Indonesia. Akan tatapi, kurs yang digunakan untuk
pengukuran kenbali berbeda dengan kurs yang digunakan dalam traslasi, yang
menghasilkan nilai rupiah yang berbeda untuk akun-akun afiliasi asing.
Proses
pengukuran kembali harus memeberian hasil akhir yang sama seakan-akan transaksi
entitas luar negeri sejak awal telah dicatat dalam rupiah. Oleh karna itu ,
beberapa transaksi dan saldo akun disajikan kembali menjadi nilai setara rupiah
menggunakan kus historis.yaitu kus tunai pada saat transaksi awal terjadi.
Proses pengukuran kembali memebagi neraca menjadi akun moneter dan non moneter.
Aset dan kewajiban moneter seperti kas, piutang jangka pendeek dan jangka
panjang,dan utang jangka pendek dan jangka panjang, memepunyai jumlah yang
tetap dalam unit mata uang. Akun-akun ini dapat mengalami keuntungan atau
kerugian dari perubahab kurs. Aset non moneter adalah akun-akun seperti
persediaan dan aset tetap, yang nilainya tidak tetap dalam unit moneter.
Oleh
karna igunakan berbagai kers untuk mengukur kembali neraca percobaan mata uang
asing, maka debit dan kredit dalam neraca percobaan setar rupiah tidak akan
sma. Dalam kasus ini, pos penyeimbang adalah keuntungana atau kerugian
pengukurana kembali, yang dimasukan dalam laporan laba rugi peride berjalan.
Penyajian
Laporan Keuangan Dari Keuntungan atau Kerugian Pengukuran Kemnali
Setiap
keuntungan atau kerugian yang timbul dari proses pengukuran kembali dimasukan
dalam laporan laba rugi periode berjalan, umumnya dalam “pendapatan lain-lain”.
Digunakan beberpa nama akun, seperti keuntungan (kerugian) mata uang asing,
keuntungan (kerugian) mata uang, keuntungan
(kerugian) nilai tukar, atau keuntungan (kerugian) pengukuran kembali.
Pos keuntungan (kerugian) pengukuran kembali digunakan disini karena nama ini
yang paling mengambarkan sumber pos tersebut. Keuntungan atau kerugian pengukuran
kembali dimasukan dalam laporan laba rigi periode berjalan karena jika transksi
sejal awal dicatat dalam rupiah
maka keuntungan atau kerugian nilai tukar akan
diakui dalam periode berjalan sebagian dari pentyesuaian yang diharuskan untuk
penlaian transaksi luar negeri yang di dominasi dalam mata uang asing.
Ø Akun-Akun
yang Diukur Kembali Menggunakan Kurs Historis
Efek
beharga:
-
Efek ekuitas
-
Efek utang yang tidak diniatkan
untuk dipegang sampe jatuh tempo
-
Persediaan
-
Biaya dibayar dimuka sperti
asuransi, iklan, dan sewa
-
Aset tetap
-
Akumulasi deprsiasi atas aset tetap
-
Paten, maerek dagang, lisensi, dan
formula
-
Goodwiil
-
Aset tak berwujut lainya
-
Beban dan kredit ditanggungkan,
kecuali pajak ditangguhkan dan biaya perolehan polisuntukperusahaan asuransi
jiwa
-
pendapatan ditangguhka
-
Saham biasa
-
Saham preferen yang di catat pada
harga dikeluarkan
Pendapatan
dan beban terkait dengan pos nonmoneter, sebadgai contoh:
- Harga pokok penjualan
- Depresiasi aset tetap
- Amortisasi aset tak terwujud seperti
paten, lisensi, dan lain-lain
- Amortisasi beban dan kredit
ditanggungkan kecuali pajak ditangguhkan biaya perolehan polis untuk perusahaan
asuransi jiwa.
Pengukuran
kembali eraca percobaan anak perusahaan luar negeri untuk setelah akuisisi
Tiga
pos memerlukan perhatian kusus yaitu:
1. Aset tetap diukur kembali
menggunakan kurs historis pada tanggal induk perusahaan mengakuisisi anak
perusahaan luar negeri. Jika anak perusahaan membeli aset tetap tambahan
setelah induk perusahaan mengakuisisi saham anak perusahaan, maka tambahan aset
tetap tersebur akan diukur kenbali menggunakan kurs pada tanggal pembelian.
2. Haraga pokok penjualan terdiri dari
transaksi yang terjadi pada berbagai kurs.
3. Beban operasi juga terjadi pada kurs
yamg berbeda.
Keuntungan pengukuran kembali diakui
dalam laporan aba rugi periode berjalan. Keuntungan pengukuran kembali adalah
sebagai pos penyeimbanguntuk memebuat total debit sama dengan total kredit,
tetapi dapat dibuktikan dengan menganalisi perubahan pos meneter selama periode
berjalan.
Ikhtisar
Proses Translasi Pengukuran Kembali
Pos
|
Proses
Translasi
|
Proses
Pengukura Kembali
|
Mata uang fungsional luar negeri
|
Unit mata uang lokal
|
Rupiah Indonesia
|
Metode yang digunakan
|
Metode kurs sekarang
|
Metode moneter-non moneter
|
Akun-akun laba laporan laba rugi
pendapatan
|
Kurs rata-rata tertimbang
|
Kurs rata-rata tertimbang, kecuali
pendapatan terkait dengan pos nonmoneter (kurs historis)
|
Beban
|
Kurs rata-rata tertimbang
|
Kurs rata-rata tertimbang, kecuali
beban terkait dengan pos nonmoneter (kurs historis)
|
Akun-akun modal
pemegang saham
|
Kurs historis
|
Kurs historis
|
Ø Investasi
Luar Negeri dan Anak Perusahaan Tidak Dikonsolidasi
Sebagian
besar perusahaan mengonsolidasi anak perusahaanluar negeri sesuai dengan PSAK
No, 4, “Laporan keuangan Konsolidasi” (PSAK 4). Dalam beberapa kasus, anak
perusahaan tersebut tidak dikosolidasi, karena kriteria yang diterapkan untuk
anak perusahaan luar negeri, kecuali jika salah satu kondisi berikut sangat
ketat sehingga perusahaan Indonesia yang memiliki perusahaan luar negeri tidak
dapat melaksanakan tingkat pengendalian ekonomis atas sumber daya dan operasi
keuangan anak perusahaan luar negeri yang merupakan syarat konsolidasi, seperti
berikut ini:
1. Pembatasan pertukaran mata uang asin
dinegara asing.
2. Pembatasan transfer properti
dinegara asing.
3. Ketidakpastian lain yang ditrapkan
lain yang ditrapkan olh pemerintah
neraca perusahaan Indonesia.
Perusahaan investor Indonesia harus menggunakan metode ekuitas jika memepunyai
kemampuan untuk melaksanakan “pengaruh signifikan” atas kebijakan keuangan dan
operasional investe.
Jika
metode ekuitas digunakan untuk anak perusahaan luar negeri yang tidak
dikonsolidasi, lapran keuangan investee diukur kembali atau ditranslasikan
tergantung pada penentuan mata uang fungsional. Jika digunakan pengukuran
kembali, maka laporan keuangan entitas luar negeri akan diukur kembali dalam
dolar dan investor mencatat presentasenya atas laba investee dan membuat
amortisasi atau penurunan nilai yang diperlukan atas deferiansial.
Ø Likuidasi
Investasi Luar Negeri
Akun
selisih translasi terkait langsung dengan investasi perusahaan dientitas luar
negeri. Jika investor menjual sebagian besar dari investasi sahamnya, PSAK 11
mengharuskan porsi pro rata dari aku
akumulasi selisih trnslasi yang diaolokasikan
ke investasi, dimasukan dalam perhitungan keuntungan atau kerugian
pelepasan investasi. Sebagai contoh, jika induk perusahaan menjual 30% dari
investasi pada anak perusahaan , 30% dari selisih translasi komulatif harus
dikeluarkan dari akun selisih translasi dan dimasukan dalam perhitungan
keuntungan atau kerugian dari pelepasan investasi luar negeri.
Ø Lindung
Nilai Investasi Bersih dan Anak Perusahaan Luar Negeri
PSAK
55 memeperbolehkan lindung nilai investasi bersih dianak perusahaan luar
negeri. Sebagai contoh, PT. Induk memepunyai investasi bersih sebesar €50.000
di anak perusahan German, yang dibayar seharaga Rp660.000.000. PT. Induk dapat
memutuskan untuk melindumng nilai investasiaset brsih dengan melakukan kontrak
kurs di muka untuk menjual euro, atau perusahan dapat mengeluarkan kewajiban
berbasis euro. PSAK 55 menetapkan bahwa keuntungan atau kerugian dari bagian
efektiv lindung nilai investasi bersih dimasukan dalam pendapatan komprehensif
lainya sebagai bagian dari selisih translasi.
Sebagai
contoh, pada tanggal 1 januari 20X1, PT. Induk memutuskan untuk melakukan
lindungnilai bagian investasinya yang baru saja dilakukan di German Company
yang terkait dengan nilai buku aset bersih German Company. PT. Induktidak yakin
apakah kurs langsung euro akan meningkat
ataupun menurun untuk tahun tersebut dan ingin melindung nilai aset bersihnya.
Pada tanggal 1 Januari 20X1, kepemilikan 100% PT. Induk atas aset bersih German
Cempany sama dengan €50.000, pada tanggalbunga 5% ntuk lindung nilai investasi di
German Company, dan modal serta bunga jatuh tempo dan terutang pada tanggal 1
Januari 20X1.
Sebagai
jurnal pada pembukuan PT Induk untuk mencatat lindung bersih investasi bersih
adalah sebagai berikut.
1 Januari 2011
Kas
|
800.000.000
|
|
Utang pinjaman (€)
|
800.000.000
|
|
Memijam
utang yang didominasi dalam euro untuk lindung nilai investasi bersihdi anak
perusahaan German:
Rp800.000.000
= €50.000 x 16.000 kurs tunai
|
31 Desember 2011
Pendapatan komperehensi lainya
|
100.000.000
|
|
Utang pinjaman
|
100.000.000
|
|
Bebean bunga
|
42.500.000
|
|
Kerugian transaksi mata uang asing
|
2.500.000
|
|
Utang bunga
|
45.000.000
|
|
Akumulasi pendapatan komperehensif
lainya-selisih transaksi
|
100.000.000
|
|
Ikhtisar laba rugi (atau saldo
laba
|
2.500.000
|
|
Kerugaian transaksi mata uang
asing
|
2.500.000
|
|
Pendapatan komperehensif lainya
|
100.000.000
|
Ø Keharusan
Pengukuran
PSAK
10 mengharuskan agregat keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing yang
dimasukan dalam laba untuk diungkapkan terpisah dalam laporan laba rugi atau
dalam ham biasa, saldo laba, dan akumulasi pendapatan catatan atas laporan
keuangan.Dalam etode translasi, perubahan berkala dalam selisih translasi
dilaporkan sebagai elemen pendapatan komperehensif lainya, sebagaimana yang
diharuskan oleh PSAK 11. Neraca akan menampilkan saham biasa, saldoha laba, dan
akumulasi pendapatan komperehensif lainya dalam bagian ekuitas pemegang saham.
Selain itu, PSAK 11 mengharuskan pengungkapan catatan kaki dari perubahan kurs
yang terjadi antara tanggal neraca dan pengaruhnya terhadap trasaksi mata uang
asing yang belum diselesaikan, jika signifikan.
Ø Pertimbangan
Tambahan Dalam Akutansi Untuk Operasi Entitas Luar Negeri
Kertas kerja konsolidasi untuk Kasus
Pengukuran Kembali
Kertas
kerja untuk kasus pengukran kembali diasjikan 12-13. Akun-akun untuk German
Cempany diperoleh dari akun-akun pengukura kembali yang dihitung pada figur
sebelumnya. Keuntungan pengukuran kembali dimasukan dalam neraca percobaan anak
perusahaan German Cemany karena sumber dari akun tersebut adalh pengukuran
kembali akun – akun anak perusahaan.
Akun
pendapatan dari anak perusahaan dapat dibuktikan sebagai berikut:
Pendapatan
dari anak perusahaan
|
|||
Bagian induk perusahaa atas laba
anak perusahaan ($18.650x1,00)
|
18.650
|
||
Amortisasi paten ($6.000/10 tahun)
|
600
|
||
Saldo 31/12/X1
|
18.050
|
||
Ø Pendekatan
Dua Laporan Untuk Menampilkan Pendapatan Komperehensif
PT. INDUK DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Laba Rugi Konsolidasi
Untuk Tahun Berakir 31 Desember 20X1
|
|
Penjualan
|
Rp4.850.000.000
|
Harga Pokok Penjualan
|
(2.082.500.000)
|
Laba kotor
|
2.767.500.000
|
Beban operasi
|
(1.203.000.000)
|
Kerugian translasi mata uang asing
|
(8.500.000)
|
Laba bersih konsolidasi untuk hak
pengendali
|
Rp1.556.000.000
|
PT INDUK DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Pendapatan Komperehensif Konsolidasi
Untuk Tahun Berakir 31 Desember 20X1
|
|
Laba bersih konso lidasinuntuk hak
pengendali
|
Rp1.556.000.000
|
Pendapatan komperehensif lainya
|
|
Selisih translasi aang asing
|
Rp 117.125.000
|
Pendapatan komperehensif untuk hak
pengendali
|
Rp1.673.125.000
|
Ø Laporan
Arus Kas
Laporan
arus kas adalah penghubung anatra dua neraca. Perusahaan mempunyai kebasan dan
fleksibilitas dalam penyusunan laporan arus kas. Aturan umum adalah bahwa
akun-akun yang dilaporkan dalam laporan arus kas harus disajikan kembali dalam
rupiah menggunakan kurs yang sama dengan yang digunakan untuk tujuan neraca dan
laporan laba rugi. Oleh karna kurs rata-rata digunakan dalam laporan laba rugi
dan kurs tunai akhir (kurs sekarang) digunakan dalam neraca maka muncul pos
penyeimbang untuk selisih kurs dalam laporan arus kas. Pos prnyeimbang ini
dapat di analisis ke akun spesifik yang menghasilkan erbedaan tersebut, tetapi
tidak memengaruhi perubahan dalam arus kas periode tersebut.
Ø Penilaian
Persediaan Nilai Terendah antar Biaya Perolehan dan Nilai Pasar dalam
pengukuran
Kembali
Penerapan
aturan nilai terendah antara biaya
pero;ehan dan nilai pasar untuk persediaan memerlukan perlakuan kusus pada saat
mata uang pencatatan bukan mata uang fungsional. Oleh karna itu, laporan
keuangan entita sasing harus diukur kembali terlebih dahulu menggunakan kurs
historis untuk menentukan nilai biaya perolehan historis dalam mata uang
fungsional. Kemudian biaya perolehan hasil pengukuran kembali ini dibandingkan
dengan nilai pasar dari persediaan yang di translasikan menggunakan kurs
sekarang. Langkah terakir adalah memandingkan biaya perolehan dan nilai pasar,
yang keduanya sudah dalam mata uang fungsional, dan untuk mengakui apakah
diperlukan penurunan nilai ke nilai pasar. Perbandingan dilakukan dalam mata
uang fungsional, bkan mata uang lokal atau pelaporan, tetapi tidak ada dalam
pembukuan anak perusahaan atau ada dalam
pembukuan tetapi tidak dalam laporan keuangan konsolidasi.
Ø Transaksi
Antarperusahaan
Sebuah
induk perusahaan atau kantor pusat indonesia dapat mempunyai transaksi
penjualan atau pembelian antarperusahaan dengan afiliasi luar negeri yang
menimbulkan piutang atau utang antarperusahaa. Proses translasi piutang atau
utang yang didenomonasi dalam mata uang asing. Sebagai contoh, asumsikan bahwa
perusahaan Indonesia mempunyai iutang yang didonimasi dalam mta uang asing dari
anak perusahaan luar negeri. perusahaan Indonesia akan pertama-tama menilai
kembali piutang yang didonominasi dalam mata uang menjadi nilai setara rupiah
pada tanggal laporan keuangan. Setelah laporan keuangan afiliasi luar negeri
ditranslasikan atau diukur kembali, tergantung mata uang fungsional afiliasi
luar negeri, maka piutang atau utang antar perusahaan akan mempunyai nilai
rupiah yang sama dan dapat dieliminasi.
Jika
transaksi mata uang antar perusahaan tidak akan dilunasi dalam waktu dekat,
maka transaksi antar perusahaan tersebut dapat dianggap bagian dari investasi
bersih di entitas luar negeri. Selisih translasi dari piutang atau utang jangka
panjang ditangguhkan dan diakumulasi sebagai bagian dari akun translasi
kmulatif.
Ø Pajak
Penghasilan
Dihasruskan
alokai pajak antarperiode pada saat ada perbedaan temporer dalam pengakuan
pendapatan dan beban untuk tujuan laporan laba rugi dan tujuan untuk pajak.
Keuntungan atau kerugian selisih kurs dari transaksi mata uang asing
mengharuskan adanya pengakuan pajak tangguhan jika dimasukan dalam laba tetapi
tidak diakui untuk tujuan pajak dalam periode yang sama.
Pendapatan komperensif
lainya—selisih translasi
|
xxx
|
|
Utang pajak penghasilan
|
xxx
|
Ø Translasi
Ketika Mta Uang Ketiga adalah Mata Uang Fungsional
Terdapat
beberapa kasus di ana anak perusahaan mempunyai pembukuan dan pencatatan dalam
unit mata uang lokal tetapi mempunyai mata uang ketiga sebagai mata uang
fungsional. Sebagai contoh, asumsikan anak perusahaan kita, German Cempany,
mempunyai pencatatan dalam mata uang lokal, euro. Jika anak perusahaan melkukan
sebagian besar aktivitasnya dalam franc Swiss, maka manajemen dapat memutuskan
bahwa franc Swiss adalah mata uang funsional anak perusahaan. Jika pembukuan
dan pencatatan entitas tidak dinyatakan dalam mata uang fungsional, maka harus
digunakan proses dua langkah berikut:
1. Mengukur kembali laporan keuangan
anak perusahaan kedalam mata uang funsional. Dalam contoh kita, laporan
keuangan dinyatakan dalam euro akan diukur kembali kedalam franc Swiss. Laporan keuangan tersebut
sekarang sudah dinyatakan dalam mata uang fungsional entitas, yaitu franc Swiis
2. Laporan keuangan yang dinyatakan
dalam franc Swiss kemudian ditranslasikan ke dalam rupiah menggunakan proses
translasi.
Komentar
Dalam
penulisan artikel ini terdapat beberapa macam-macam tentang laporan keuangan
entitas asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar