Jumat, 13 Juli 2018

BAB 12 Transaksi Laporan Keuangan Entitas Asing




BAB 12
Akuntansi Multinasional : Transaksi Laporan Keuangan Entitas Asing

Ø  Perbedaan Dalam Prinsip Akutansi
            Metode-metode yang digunakan untuk mengukur aktivitas ekonomi berbeda-beda di seluruh dunia.kondisi perekonomian suatu negara, masalah hukum, pndidikan dan sistem politk, perkembangan teknologi, budaya dan tradisi, serta berbgai fakto-faktor sosial ekonomi lainya, merupakan faktor yang  mempengaruhi perkembangan standar akutansidan profesi di suatu negara. Perbedaan ini akan menyebabkan adanya perbedaan yang signifikan antara standar-standar akutansi di berbagai negara. Ketidakseragaman standar di berbagai negara akan menimbulkan berbagai masalah bagi perusahaan, pihak penyusun dan pengguna laporan keuangan. Beberapa negara mengembangkan prinsip akutansinya berdasarkan kebutuhan informasi dan otoritas pajak. Negara lain mempunyai prinsip akutansi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dari pemerintah pusoat sebagai perencana ekonomi. Model di Indonesia berfokus pada kebutuhan informasi pemegang saham biasa ataun pihak pemberi kredit melalui penerapan prinsip akutansi yang berlaku umum.
            Standar pelaporan akutansi yang utama saat ini sedang dalam proses penyusunan oleh International Accounting standard Board (IASB). IASB adalah sebuah badan yang memeperoleh mandat untuk menyusun seperangkat standar laporan keuangan international dan mendorong seluruh pihak untuk mengadopsi standar yang berlaku secara international tersebut. IASB mengatur susunan keanggotaan, dengan komposisi sebagai berikut :
*      5 anggota sebagai auditor
*      3 anggota berlatar belakang penyusunan laporan keuangan (dari manajemen)
*      3 anggota berlatar belakang pengguna laporan keuangan dan
*      1 anggota berlatar belakang akademi, sedangkan
*       2 anggota lainya dapat berlatar belakang dari bidan lainya
ISAB mengumumkan sebuah standar pelaporan yang disebut sebagai Setandar Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting Standards-IFRSs). Sebelum terbentuknya ISAB, International Accounting Standard Committe telah menerbitkan International Accountig Standard (IASs). IASs di terbitkan dari tahun 1973 hingga tahun 2001. IASB mengadopsi IASs secara keseluruhan dan sekaligus mengembangkanya, yang disebut IFRSs.

Ø  Penentuan Mata Uang Fungsional
            Ada dua isu yang ditunjukan pada laporan keuangan yang ditranslasikan dari mata uang asing pada rupiah Indonesia yaitu:
1.      Nilai tukar manakah yang harus digunakan untuk mentraslasikan nilai mata uang asing menjadi mata uang domestik?
2.      Bagaimanakah seharusnya perlkuan atas keuntungan atau kerugian tersebut?Haruskah hal itu dimasukan dalam laba rugi?
Ada tiga kemungkinan nilai tukar  yang digunakandalam mengonversi nilai mata uang asing menjadi rupiah yaitu:
1.      Nilai tukar sekarang, merupakan nilai tukar pada akhir tanggal neraca
2.      Nilai tukar historis, merupakan nilai tukar yang pada saat transakasi awal terjadi, seperti nilai tukar pada tanggal saat aset diterima atau kewajiban diakui.
3.      Nilai tukar rata-rata, merupakan nilai tukar rata-rata selama suatu periode.
PSAK No 11 tentang “translasi mata uang asing” (PSAK 11) memberikan panduan khusus untuk mentranslasi laporan euangan dari mata uang asing menjadi mata uang rupiah. Tujuan dari PSAK 11 menyajikan hasi secara langsung memeperlihatkan pengaruh perubahan ekonomi dari pergerakan nilai tukar. PSAK 11 juga menjelaskan tentang pencapaian keuangan dan hubunganya dalam laporan keuangan dengan mata uang asing melalui proses translasi. PSAK mengadopsi konsep uanhg kungan fungsional (functional currency) yang definisikan sebagai mata uang dari lingkungan ekonomi primer kauntuk memebedakan antara dua jenis kegiatan operasional luar negeri yaitu;
1.      Kegiatan dikelola sendiri dan terintegrasi dengan lingkunga lokal dimana entitas asing itu beroprasi, dan
2.      Kegiatan terpisah dari lingkungan lokal dan terintegrasi dengan induknya.

Indikator-indikator Mata Uang fungsional
Indikator
Mata uang sebagai mata uang fungsional jika memenuhi indikator di bawah ini
Arus kas
Arus kas yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan didomonasi oleh mata uang tersebut.
Harga jual
Harga jual dalam jangka pendek sangat terpengaru dengan perubahan nilai mata uang tersebut atau produksi perusahaan sebagian besar di ekspor.
Beban
Beban dipengaruhi oleh perubahan nilai mata uang.

Akan tetapi, beberapa entitas asing menggunakan mata uang fungsional yang berbeda dengan mata uang lokalnya. DSAK telah mengadopsi pendekatan mata uang fungsional setelah mempertimbangkan tujuan dari prosestranslasi berikut.
1.    Memberikan informasi yang secara umum sesuai dengan pengaruh ekonomi yang diharapkan dari perubahan nilai tukar terhadap arus kas dan ekuitas perusahaan.
2.    Mencerminkan laporan keuangan konsolidasi hasil keuangan dan hubungan antara masing-masing entitas konsolidasi dalam mata uang fungsional yang sesuai dengan prinsip akutansi yang berlaku secara umum di Indonesia.
Ø  Penentuan Mata Uang Fungsional di Lingkungan dengan Tingkat Inflasi Tinggi
            Pengecualian atas kriteria pemilihan mata uang asing dikhususkan jika entitas asing berlokasi di negara seperti Argentina dan Peru yang mengalami inflasi yang sangat tinggi. Inflasi yang sangat tinggi didevinisikan sebagai inflasi yang melibihi 100% selama periode 3 tahun. PSAK memutuskan bahwa volativitas dalam mata uang asing dengan hiperinflasi mendistorsi laporan keuangan jika mata uang lokal dipergunakan sebagai mata uang fungsional entitas asing. Oleh karna itu, dalam kasus oprasi entitas asing ang berbeda dengan perekonomian dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi, mata uang pelaporan dari indu perusahaan Indonesia-rupiah-harus digunakan sebagai mata uang fungsional entitas asing. Pengecualian ini menyegah nilai aset dan perubahan laporan laba rugi yang tidak realistis jika keadaan hiperinflasi tersebut diabaikan dan presedur translasi yang normal digunakan. Sebagai contoh, asumsikan bahwa anak perusahaan di luar negeri membangun gedung dengan biaya 1.000.000 peso pada saat nilai tukar adalah Rp500 = 1 peso. Kemudian diasumsikan bahwa karna adanya hiperinflasi dinegara anak

 perusahaan luar negeri trsebut, maka nilai tukar menjadi Rp0,05 = 1 peso. Nilai gedung hasil translasi pada saat dibangun dan setelah hiperinflasi adalah sebagai berikut.
Jumlah
Tanggal Pembangunan
Setelah Hiperinflasi
(peso)
Nilai Tukar
Jumlah hasil Translasi
Nilai Tukar
Jumlah Hasil Traslasi
1.000.000
Rp500
Rp500.000.000
Rp0,05
Rp50.000







            Nilai translasi setelah hiperinflasi tidak mencerminkan nilai pasar atau biaya prolehan historis dari gedung tersebut. Oleh karna itu, PSAK mengharuskan penggunaan rupiah sebagai mata uang fungsional dalam kasus hiperinflasi untuk memeberikan stabilitas dalam laporan keuangan.

Ø  Translasi Versus Pengukuran Kembali Laporan Keuangan Asing
            Terdapat dua metode yang berbeda untuk menyajikan kembali laporan keuangan entitas sing kedalam rupiah yaitu;
1.      Tranlasi laporan keuangan entitas asing kerupiah.
2.      Pengukuran kembali laporan keuangan entitas asing kemata uang fungsional entitas tersebut.
Setelah penguuran kembali, keuangan tersebut harus ditranslasikan jika mata uang fungsionalnya bukan rupiah. Jika mata uang fungsionalnya adalah rupiah maka tidak diperlukan translasi lagi.
            Translasi adalah metode yang umum digunakan dan diterapkan jika mata uang lokal adalah mata uang fungsional entitas asing. Inin merupakam kasus normal dimana, sebagai contoh, anak perusahaan Indonesia di Prancis menggunakan euro ke rupiah. Setiap selisih translasi yang terjadi akan dimasukan srbagai komponen laba komprensif. Oleh karna pendapatan dan beban laba rugi ditranslasikan dengan mengguakan nilai tukar rata-rata sepanjang periode pelaoran. Metode translasi sering disebut sebagai metode nilai tukar sekarang (current rate methods).Metode yang digunakan untuk pengukuran kembali laporan keuangan dari mata uang lokal kepada mata uang fungsional disebut metode temporal (temporal methods). Tabel berikutmenyajikan metode-metode yang dapat diguakan oleh perusahaan Indonesia untuk menyatakn kembali laporan keuangan afiliasi asing menjadi rupiah.

Mata uang pembukaan dan
Pencatatan afiliasi luar negri
Mata uang fungsional
Metode penyataan kembali
Mata uang lokal (yaitu mata uang negara tempat afiliasi berlokasi) mata uang local
Mata uang lokal

Rupiah indonesia (seperti yang diharuskan dalam perekonomian hiperinflasi)
Translasi ke rupiah menggunakan nilai tukar sekarang.
Diukur kembali dari mata uang lokal kerupiah

 Pertama, diukur kembali dari mata uang lokal kemata uang fungsional, kemudian di translasikan dari mata uang fungsional ke rupiah.
Tidak diperlukan pernyataan kembali; suadah dinyatakan dalam rupiah
Mata uang local
Mata uang negara ketiga (bukan matauang lokal atau rupiah
Rupiah Indonesia
Rupiah indonesia


Ø  Translasi Laporan Keuangan Mata Uang Fungsional Menjadi Mata Uang Pelaporan Perusahaan Indonesia
            Sebagian besar entitas bisnis melakukan transaksi dan mencatat aktivitas bisnisnya dalam mata uang lokal. Oleh karna itu, mata uang lokal dari entitas asing dalah matauang fungsionalnya. Translasi laporan keuangan entitas asing kedalam rupiah merupakan proses yang relatif sederhana.
            DSAK menyakini bahwa hubungan ekonomi yang mendasari disajkanya laporan keuangan entitas asing tidak boleh terdistori atau berubah selama proses translasi dari mata uang fungsional entitas asing menjadi mata uang asing induk perusahaan. Sebagai contoh, jika laporan keuangan mata uang fngsional melaorka rasio laancar 2:1 dan laba kotor 60% dari penjualan, maka hubungan in harus tetap dalam proses traslasi menjadi mata uang pelaporan induk perusahaan Indonesia. Merupakan hal yang penting untuk dapat mengevaluasi kinerja dari manajemen afiliasi asing dengan menggunakn ukuran ekonomi yang sama dengan yang digunakan dalam operasi entitas asing. Untuk memepertahankan hubungan ekonomi tersebut dalam laporan keuangan mata uag fungsional, saldo akun harus ditranslasikan dengan nilai tukar yang sebanding.


            Secara ringkas, translasi laporan keuangan entitas asing dari mata uang fungsional kemata uang pelaporan perusahaan Indonesia adalah sebagai berikut;
Akun laporan laba rugi:
       Pendapatan dan beban
Umumnya, nilai tukar rata-rata tertimbang untuk periode laporan
Akan neraca:
       Aset dan kewajban
       Ekuitas pemegang saham
Nilai tukar sekarang pada tanggal neraca
Nilai tukar historis

Oleh karna untuk translasi masing-masing aun entitas asing digunakan kurs yang berbeda-beda, maka umumnya debit dan kredit dalam neraca percobaan setelah translasi tidak sama. Pos penyeimbang debit percobaan translasi dengan kreditnya disebut selisih translasi.
Ø  Laporan Keuangan dari selisih Translasi.
            Selisih transasi dari prises translasi adalah bagian dari pendapatan komprehensif untuk periode terseut. Pendapatn kompreensif termasuk emua perubahan dalam ekuitas selama tahun berjalan kecuali perubahan yang timbul daru investasi pemilik dan pembagian ke pemilik. Pemdapatan komprehensif termasu laba bersih dan “pendapat komperensif lainya” yang merupakan bagian dari perubahan aset bersih perusahaan dari sumber selain pemilik (yaitu bukan investasi modal tambahan dan deviden) selma periode berjalan. PSAK mengharuskan pelaporan pendapatan komperensif sebagai bagian dari laporan keuangan utama entitas. Pos utama yang menjadi bagian dari pendapatan komperensif lainya adalah perubahan selisih translasi selama periode berjalan., nilai arus kas, dan penyesuaian dalam kewajibana pensiun minimum.
            Terdapat beberapa alternatif format penyajian untuk pendapatan komprehensif. Laporan tunggal, pendekatan laporan gabungan, pertama menyajikan pos-pos dalam laporan laba rugi dankemudian mempunyai bagiann yang menyajikan pos pendapatan komprenhesif lainya. Sebagai alternatif, yaitu penyajian dua laporan, pertama menyajikan perhitungan laba bersih dalam satu laporan dan kemudian laporan terkait yang dimulai dengan laba bersih dan merekonsiliasi menadi pendapatan komprehensif dengan melaporkan pos pendapatan komprehensif secara terpisah. Alternatif ketiga, yang sring banyak digunakan oleh perusahaan, adalah hanya menyajikan pos yang merupakan bagian dari pendapatan komprehensif lainya dalam skedul akumulasi pendapatan komprehensif lainya dalam laporan perubahan ekuitas

konsolidasi. Suatu entitas dapat menyajikan komponen dari pos pendapatan kpmprehensif lainya bersih dari pajak atau dapat menyajikan pengaruh agregat pajak terkait dengan total pendapatan komprehensif lainya dalam suatu angka.
Ø  Kepemilikan Minoritas pada Anak Perusahaan Luar Negeri
            Sebagian besar perusahan di Indonesia suka memiliki 100% anak perusahaan luar negerinya. Denagan demikian akan memungkinkan manajemen lebih efesien atas anak perusahaan dan tidaka ada keharusan untuk menyusun laporan keuangan anak perusahaan untuk kepemilikan minoritas harus dihitung dan diperlakukan sebagaimana yang sudah dilelaskan sebelumnya. Satu-satunya perbedaan adalah alokasi selisih translasi akan neraca percobaan anak perusahaan luar negeri. Oleh karna itu, sebagai contih, jika PT. Induk memiliki 80% kepemilikan di German Cempanydan investor lain memiliki kepemilikan minaritos akan mendapat alokasi sebasar presentase kepemilikan dari selisih dari translasi melalui proses ayat jurnal eliminasi. Kepemlikan minoritas di neraca konsolidasi akir tahun akan termasu bagianya atas akumulasi pendapatan komprehensif lainya dari selisih sebagai berikut.
Saham biasa (Rp640.000.000 x 0,2)

Rp128.000.000
Saldo laba:


     Saldo laba awal (Rp160.000.000 x o,2)
Rp32.000.000

     Ditambah: laba bersih (Rp212.500.000 x 0,2)
     42..500.000

     Dikurangi: deviden (Rp110.000.000 x 0,20)
    (22.000.000)

     Total saldo laba

     52.500.000
Akaumulasi pendapatan komprehensif lainya-selisih (Rp110.000.000 x 0,20)

22.000.000
Total kepemilikan minoritas

    202.500.000


Ø  Pengukuran Kembali Pembukuan ke Dalam Mata Uang Asing Fungsional
            Metode kedua untuk menyajikan kembali laporan keuangan afiliasi luar negeri ke rupiah adalah pengukuran kembali. Walaupaun pengukuran kembali untuk umum sebagaiman translasi, terdapat beberapa situasi dimana mata uang fungsional dari afiliasi asing bukan mata uang uang lokal. Pengukuran kembali sama sperti translasi di mana tujuanya adalah untuk mendapatkan nilai setar rupiah dariakun-akun afiliasi asing sehingga dapat digabungkan atau dikonsolidasi dengan laporan keuangan perusahaan Indonesia. Akan tatapi, kurs yang digunakan untuk pengukuran kenbali berbeda dengan kurs yang digunakan dalam traslasi, yang menghasilkan nilai rupiah yang berbeda untuk akun-akun afiliasi asing.
            Proses pengukuran kembali harus memeberian hasil akhir yang sama seakan-akan transaksi entitas luar negeri sejak awal telah dicatat dalam rupiah. Oleh karna itu , beberapa transaksi dan saldo akun disajikan kembali menjadi nilai setara rupiah menggunakan kus historis.yaitu kus tunai pada saat transaksi awal terjadi. Proses pengukuran kembali memebagi neraca menjadi akun moneter dan non moneter. Aset dan kewajiban moneter seperti kas, piutang jangka pendeek dan jangka panjang,dan utang jangka pendek dan jangka panjang, memepunyai jumlah yang tetap dalam unit mata uang. Akun-akun ini dapat mengalami keuntungan atau kerugian dari perubahab kurs. Aset non moneter adalah akun-akun seperti persediaan dan aset tetap, yang nilainya tidak tetap dalam unit moneter.
            Oleh karna igunakan berbagai kers untuk mengukur kembali neraca percobaan mata uang asing, maka debit dan kredit dalam neraca percobaan setar rupiah tidak akan sma. Dalam kasus ini, pos penyeimbang adalah keuntungana atau kerugian pengukurana kembali, yang dimasukan dalam laporan laba rugi peride berjalan.
Penyajian Laporan Keuangan Dari Keuntungan atau Kerugian Pengukuran Kemnali
            Setiap keuntungan atau kerugian yang timbul dari proses pengukuran kembali dimasukan dalam laporan laba rugi periode berjalan, umumnya dalam “pendapatan lain-lain”. Digunakan beberpa nama akun, seperti keuntungan (kerugian) mata uang asing, keuntungan (kerugian) mata uang, keuntungan  (kerugian) nilai tukar, atau keuntungan (kerugian) pengukuran kembali. Pos keuntungan (kerugian) pengukuran kembali digunakan disini karena nama ini yang paling mengambarkan sumber pos tersebut. Keuntungan atau kerugian pengukuran kembali dimasukan dalam laporan laba rigi periode berjalan karena jika transksi sejal awal dicatat dalam rupiah

 maka keuntungan atau kerugian nilai tukar akan diakui dalam periode berjalan sebagian dari pentyesuaian yang diharuskan untuk penlaian transaksi luar negeri yang di dominasi dalam mata uang asing.
Ø  Akun-Akun yang Diukur Kembali Menggunakan Kurs Historis
Efek beharga:
-            Efek ekuitas
-            Efek utang yang tidak diniatkan untuk dipegang sampe jatuh tempo
-            Persediaan
-            Biaya dibayar dimuka sperti asuransi, iklan, dan sewa
-            Aset tetap
-            Akumulasi deprsiasi atas aset tetap
-            Paten, maerek dagang, lisensi, dan formula
-            Goodwiil
-            Aset tak berwujut lainya
-            Beban dan kredit ditanggungkan, kecuali pajak ditangguhkan dan biaya perolehan polisuntukperusahaan asuransi jiwa
-            pendapatan ditangguhka
-            Saham biasa
-            Saham preferen yang di catat pada harga dikeluarkan
Pendapatan dan beban terkait dengan pos nonmoneter, sebadgai contoh:
-          Harga pokok penjualan
-          Depresiasi aset tetap
-          Amortisasi aset tak terwujud seperti paten, lisensi, dan lain-lain
-          Amortisasi beban dan kredit ditanggungkan kecuali pajak ditangguhkan biaya perolehan polis untuk perusahaan asuransi jiwa.

Pengukuran kembali eraca percobaan anak perusahaan luar negeri untuk setelah akuisisi
            Tiga pos memerlukan perhatian kusus yaitu:
1.      Aset tetap diukur kembali menggunakan kurs historis pada tanggal induk perusahaan mengakuisisi anak perusahaan luar negeri. Jika anak perusahaan membeli aset tetap tambahan setelah induk perusahaan mengakuisisi saham anak perusahaan, maka tambahan aset tetap tersebur akan diukur kenbali menggunakan kurs pada tanggal pembelian.
2.      Haraga pokok penjualan terdiri dari transaksi yang terjadi pada berbagai kurs.
3.      Beban operasi juga terjadi pada kurs yamg berbeda.
Keuntungan pengukuran kembali diakui dalam laporan aba rugi periode berjalan. Keuntungan pengukuran kembali adalah sebagai pos penyeimbanguntuk memebuat total debit sama dengan total kredit, tetapi dapat dibuktikan dengan menganalisi perubahan pos meneter selama periode berjalan.
Ikhtisar Proses Translasi Pengukuran Kembali
Pos
Proses Translasi
Proses Pengukura Kembali
Mata uang fungsional luar negeri
Unit mata uang lokal
Rupiah Indonesia
Metode yang digunakan
Metode kurs sekarang
Metode moneter-non moneter

Akun-akun laba laporan laba rugi pendapatan

Kurs rata-rata tertimbang

Kurs rata-rata tertimbang, kecuali pendapatan terkait dengan pos nonmoneter (kurs historis)
Beban
Kurs rata-rata tertimbang
Kurs rata-rata tertimbang, kecuali beban terkait dengan pos nonmoneter (kurs historis)
  Akun-akun modal pemegang          saham
Kurs historis
Kurs historis

Ø  Investasi Luar Negeri dan Anak Perusahaan Tidak Dikonsolidasi
            Sebagian besar perusahaan mengonsolidasi anak perusahaanluar negeri sesuai dengan PSAK No, 4, “Laporan keuangan Konsolidasi” (PSAK 4). Dalam beberapa kasus, anak perusahaan tersebut tidak dikosolidasi, karena kriteria yang diterapkan untuk anak perusahaan luar negeri, kecuali jika salah satu kondisi berikut sangat ketat sehingga perusahaan Indonesia yang memiliki perusahaan luar negeri tidak dapat melaksanakan tingkat pengendalian ekonomis atas sumber daya dan operasi keuangan anak perusahaan luar negeri yang merupakan syarat konsolidasi, seperti berikut ini:
1.      Pembatasan pertukaran mata uang asin dinegara asing.
2.      Pembatasan transfer properti dinegara asing.
3.      Ketidakpastian lain yang ditrapkan lain yang ditrapkan olh pemerintah
neraca perusahaan Indonesia. Perusahaan investor Indonesia harus menggunakan metode ekuitas jika memepunyai kemampuan untuk melaksanakan “pengaruh signifikan” atas kebijakan keuangan dan operasional investe.
            Jika metode ekuitas digunakan untuk anak perusahaan luar negeri yang tidak dikonsolidasi, lapran keuangan investee diukur kembali atau ditranslasikan tergantung pada penentuan mata uang fungsional. Jika digunakan pengukuran kembali, maka laporan keuangan entitas luar negeri akan diukur kembali dalam dolar dan investor mencatat presentasenya atas laba investee dan membuat amortisasi atau penurunan nilai yang diperlukan atas deferiansial.
Ø  Likuidasi Investasi Luar Negeri
            Akun selisih translasi terkait langsung dengan investasi perusahaan dientitas luar negeri. Jika investor menjual sebagian besar dari investasi sahamnya, PSAK 11 mengharuskan porsi pro rata dari aku akumulasi selisih trnslasi yang diaolokasikan  ke investasi, dimasukan dalam perhitungan keuntungan atau kerugian pelepasan investasi. Sebagai contoh, jika induk perusahaan menjual 30% dari investasi pada anak perusahaan , 30% dari selisih translasi komulatif harus dikeluarkan dari akun selisih translasi dan dimasukan dalam perhitungan keuntungan atau kerugian dari pelepasan investasi luar negeri.    

Ø  Lindung Nilai Investasi Bersih dan Anak Perusahaan Luar Negeri
            PSAK 55 memeperbolehkan lindung nilai investasi bersih dianak perusahaan luar negeri. Sebagai contoh, PT. Induk memepunyai investasi bersih sebesar €50.000 di anak perusahan German, yang dibayar seharaga Rp660.000.000. PT. Induk dapat memutuskan untuk melindumng nilai investasiaset brsih dengan melakukan kontrak kurs di muka untuk menjual euro, atau perusahan dapat mengeluarkan kewajiban berbasis euro. PSAK 55 menetapkan bahwa keuntungan atau kerugian dari bagian efektiv lindung nilai investasi bersih dimasukan dalam pendapatan komprehensif lainya sebagai bagian dari selisih translasi.
            Sebagai contoh, pada tanggal 1 januari 20X1, PT. Induk memutuskan untuk melakukan lindungnilai bagian investasinya yang baru saja dilakukan di German Company yang terkait dengan nilai buku aset bersih German Company. PT. Induktidak yakin apakah kurs langsung  euro akan meningkat ataupun menurun untuk tahun tersebut dan ingin melindung nilai aset bersihnya. Pada tanggal 1 Januari 20X1, kepemilikan 100% PT. Induk atas aset bersih German Cempany sama dengan €50.000, pada tanggalbunga 5% ntuk lindung nilai investasi di German Company, dan modal serta bunga jatuh tempo dan terutang pada tanggal 1 Januari 20X1.
            Sebagai jurnal pada pembukuan PT Induk untuk mencatat lindung bersih investasi bersih adalah sebagai berikut.
            
1 Januari 2011
Kas
800.000.000

        Utang pinjaman (€)

800.000.000
Memijam utang yang didominasi dalam euro untuk lindung nilai investasi bersihdi anak perusahaan German:
Rp800.000.000 = €50.000 x 16.000 kurs tunai


31 Desember 2011     
Pendapatan komperehensi lainya
100.000.000

       Utang pinjaman

100.000.000



Bebean bunga
42.500.000

 Kerugian transaksi mata uang asing
   2.500.000

             Utang bunga

45.000.000



Akumulasi pendapatan komperehensif lainya-selisih transaksi
100.000.000

Ikhtisar laba rugi (atau saldo laba
    2.500.000

            Kerugaian transaksi mata uang asing

    2.500.000
            Pendapatan komperehensif lainya

100.000.000







        

Ø  Keharusan Pengukuran
            PSAK 10 mengharuskan agregat keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing yang dimasukan dalam laba untuk diungkapkan terpisah dalam laporan laba rugi atau dalam ham biasa, saldo laba, dan akumulasi pendapatan catatan atas laporan keuangan.Dalam etode translasi, perubahan berkala dalam selisih translasi dilaporkan sebagai elemen pendapatan komperehensif lainya, sebagaimana yang diharuskan oleh PSAK 11. Neraca akan menampilkan saham biasa, saldoha laba, dan akumulasi pendapatan komperehensif lainya dalam bagian ekuitas pemegang saham. Selain itu, PSAK 11 mengharuskan pengungkapan catatan kaki dari perubahan kurs yang terjadi antara tanggal neraca dan pengaruhnya terhadap trasaksi mata uang asing yang belum diselesaikan, jika signifikan.
Ø  Pertimbangan Tambahan Dalam Akutansi Untuk Operasi Entitas Luar Negeri
 Kertas kerja konsolidasi untuk Kasus Pengukuran Kembali
            Kertas kerja untuk kasus pengukran kembali diasjikan 12-13. Akun-akun untuk German Cempany diperoleh dari akun-akun pengukura kembali yang dihitung pada figur sebelumnya. Keuntungan pengukuran kembali dimasukan dalam neraca percobaan anak perusahaan German Cemany karena sumber dari akun tersebut adalh pengukuran kembali akun – akun anak perusahaan.
            Akun pendapatan dari anak perusahaan dapat dibuktikan sebagai berikut:
Pendapatan dari anak perusahaan


Bagian induk perusahaa atas laba anak perusahaan ($18.650x1,00)
18.650
Amortisasi paten ($6.000/10 tahun)
600




Saldo 31/12/X1
18.050



Ø  Pendekatan Dua Laporan Untuk Menampilkan Pendapatan Komperehensif
PT. INDUK DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Laba Rugi Konsolidasi
Untuk Tahun Berakir 31 Desember 20X1
Penjualan
Rp4.850.000.000
Harga Pokok Penjualan
   (2.082.500.000)
Laba kotor
    2.767.500.000
Beban operasi
   (1.203.000.000)
Kerugian translasi mata uang asing
          (8.500.000)
Laba bersih konsolidasi untuk hak pengendali
Rp1.556.000.000

PT INDUK DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Pendapatan Komperehensif Konsolidasi
Untuk Tahun Berakir 31 Desember 20X1
Laba bersih konso lidasinuntuk hak pengendali
Rp1.556.000.000
Pendapatan komperehensif lainya

   Selisih translasi aang asing
Rp    117.125.000
Pendapatan komperehensif untuk hak pengendali
Rp1.673.125.000

Ø  Laporan Arus Kas
            Laporan arus kas adalah penghubung anatra dua neraca. Perusahaan mempunyai kebasan dan fleksibilitas dalam penyusunan laporan arus kas. Aturan umum adalah bahwa akun-akun yang dilaporkan dalam laporan arus kas harus disajikan kembali dalam rupiah menggunakan kurs yang sama dengan yang digunakan untuk tujuan neraca dan laporan laba rugi. Oleh karna kurs rata-rata digunakan dalam laporan laba rugi dan kurs tunai akhir (kurs sekarang) digunakan dalam neraca maka muncul pos penyeimbang untuk selisih kurs dalam laporan arus kas. Pos prnyeimbang ini dapat di analisis ke akun spesifik yang menghasilkan erbedaan tersebut, tetapi tidak memengaruhi perubahan dalam arus kas periode tersebut.  

Ø  Penilaian Persediaan Nilai Terendah antar Biaya Perolehan dan Nilai Pasar dalam
pengukuran Kembali
            Penerapan aturan nilai  terendah antara biaya pero;ehan dan nilai pasar untuk persediaan memerlukan perlakuan kusus pada saat mata uang pencatatan bukan mata uang fungsional. Oleh karna itu, laporan keuangan entita sasing harus diukur kembali terlebih dahulu menggunakan kurs historis untuk menentukan nilai biaya perolehan historis dalam mata uang fungsional. Kemudian biaya perolehan hasil pengukuran kembali ini dibandingkan dengan nilai pasar dari persediaan yang di translasikan menggunakan kurs sekarang. Langkah terakir adalah memandingkan biaya perolehan dan nilai pasar, yang keduanya sudah dalam mata uang fungsional, dan untuk mengakui apakah diperlukan penurunan nilai ke nilai pasar. Perbandingan dilakukan dalam mata uang fungsional, bkan mata uang lokal atau pelaporan, tetapi tidak ada dalam pembukuan anak perusahaan  atau ada dalam pembukuan tetapi tidak dalam laporan keuangan konsolidasi.
Ø  Transaksi Antarperusahaan
            Sebuah induk perusahaan atau kantor pusat indonesia dapat mempunyai transaksi penjualan atau pembelian antarperusahaan dengan afiliasi luar negeri yang menimbulkan piutang atau utang antarperusahaa. Proses translasi piutang atau utang yang didenomonasi dalam mata uang asing. Sebagai contoh, asumsikan bahwa perusahaan Indonesia mempunyai iutang yang didonimasi dalam mta uang asing dari anak perusahaan luar negeri. perusahaan Indonesia akan pertama-tama menilai kembali piutang yang didonominasi dalam mata uang menjadi nilai setara rupiah pada tanggal laporan keuangan. Setelah laporan keuangan afiliasi luar negeri ditranslasikan atau diukur kembali, tergantung mata uang fungsional afiliasi luar negeri, maka piutang atau utang antar perusahaan akan mempunyai nilai rupiah yang sama dan dapat dieliminasi.
            Jika transaksi mata uang antar perusahaan tidak akan dilunasi dalam waktu dekat, maka transaksi antar perusahaan tersebut dapat dianggap bagian dari investasi bersih di entitas luar negeri. Selisih translasi dari piutang atau utang jangka panjang ditangguhkan dan diakumulasi sebagai bagian dari akun translasi kmulatif.
  
Ø  Pajak Penghasilan
            Dihasruskan alokai pajak antarperiode pada saat ada perbedaan temporer dalam pengakuan pendapatan dan beban untuk tujuan laporan laba rugi dan tujuan untuk pajak. Keuntungan atau kerugian selisih kurs dari transaksi mata uang asing mengharuskan adanya pengakuan pajak tangguhan jika dimasukan dalam laba tetapi tidak diakui untuk tujuan pajak dalam periode yang sama.
Pendapatan komperensif lainya—selisih translasi
xxx

         Utang pajak penghasilan

xxx

Ø  Translasi Ketika Mta Uang Ketiga adalah Mata Uang Fungsional
            Terdapat beberapa kasus di ana anak perusahaan mempunyai pembukuan dan pencatatan dalam unit mata uang lokal tetapi mempunyai mata uang ketiga sebagai mata uang fungsional. Sebagai contoh, asumsikan anak perusahaan kita, German Cempany, mempunyai pencatatan dalam mata uang lokal, euro. Jika anak perusahaan melkukan sebagian besar aktivitasnya dalam franc Swiss, maka manajemen dapat memutuskan bahwa franc Swiss adalah mata uang funsional anak perusahaan. Jika pembukuan dan pencatatan entitas tidak dinyatakan dalam mata uang fungsional, maka harus digunakan proses dua langkah berikut:
1.      Mengukur kembali laporan keuangan anak perusahaan kedalam mata uang funsional. Dalam contoh kita, laporan keuangan dinyatakan dalam euro akan diukur kembali kedalam  franc Swiss. Laporan keuangan tersebut sekarang sudah dinyatakan dalam mata uang fungsional entitas, yaitu franc Swiis
2.      Laporan keuangan yang dinyatakan dalam franc Swiss kemudian ditranslasikan ke dalam rupiah menggunakan proses translasi.








  







 

Komentar

Dalam penulisan artikel ini terdapat beberapa macam-macam tentang laporan keuangan entitas asing.































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Indah Selama di Kampus Universitas Muhammadiyah Jember

Cerita Indah di Universitas Muhammadiyah Jember ( I LOVE UNMUH)           Pertama-Pertama saya disini akan memperkenalkan diri na...